pilkada NTB, benci tapi rindu -->
Cari Berita

Advertisement

pilkada NTB, benci tapi rindu

Senin, 23 Juli 2018

Foto: Penulis

Indikatorsumbawa.com - Pilkada serentak di Indonesia yang di selenggarakan oleh beberapa daerah di Indonesia menjadi moment yang paling di tunggu oleh masyarakat Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa moment pilkada atau pemilihan kepala daerah sebagai pesta demokrasi dalam memilih kepala daerah masing-masing. Stigma politik pada masyarakat umumnya sangat buruk di sebabkan oleh elit-elit politik haus akan kekuasaan akan harta benda.  Banyak yang rindu, banyak pula yang benci terhadap perpolitikan tanah air negeri tercinta ini. Namun, sebuah keniscayaan pesta demokrasi adalah buah dari reformasi, masyarakat adalah tuan dari demokrasi itu sendiri dan masyarakat adalah raja sesunggunya.

Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah salah satu provensi di Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan otonomi daerah tersendiri yang artinya memliki aturan serta prasyarat siapa yang bakal menjadi pemimpin dalam momentm pilkada serentak 2018. Tentunya, putra-putra terbaik daerah dengan berbagai prestasi siap bertarung untuk memipin daerah para raja ini. Lima kandidat calon Gubernur NTB siap mewarnai pesta demokrasi lima tahunan ini. Kelima calon memliki latar belakang yang berbeda dan usia yang berbeda. Pertarung usia dan latar belakang kondisi sosial ekonomi juga akan menjadi suatu andalan kandidat pasangan calon Gubernur. Dari usia, sepertinya aka nada pertarungan poros muda dan poros tua. Poros muda di gerakkan oleh pasangan calon muda tentu sebagai representasi dari pemuda-pemuda NTB, yang artinya pemuda juga ambil bagian dalam memimpin provensi ini. Dari poros tua, tak lepas dari sosok lama yang masih bertahan dan haus akan kekuasaan setelah beberapa kali mengikuti momen pilkada, tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk merebut hati masyarakat NTB.

Namun, yang akan menjadi pembeda pada pasangan calon yang akan dilirik oleh masyarakat yaitu visi dan misi pembahruan apa yang ditawarkan pada masyarakat. Masyarakat NTB adalah masyarakat cerdas untuk memilih pemimpin yang betul-betul merakyat dan mampu membangun perekonomian masyarakat. Maka pertarungan visi dan misi adalah pertarungan harga mati bagi pasangan calon untuk merbut hati masyarakat NTB. Menariknya, dalam pilgub NTB pasangan calon memiliki karakter yang berbeda. Sebuah keniscayaan dalam pilkada tahun ini. Kelima pasangan calon berangkat dari insane-insan terbaik daerah dengan kharisma dan karakter yang berbeda. Karakter pembeda bisa berangkat dari sosio-cultur atau sifat. Namun, religious dan merakyat serta kerja-kerja nyata suatu karekter yang diinginkan oleh masyarakat NTB, bukan hanya pencitraan seperti di beliho dan iklan-iklan. Karena masyarakat NTB dengan karakter relegius akan menentukan pilihan berdasarkan nilai-nilai ketuhananan.

Melihat dari kehidupan masyarakat NTB yang prular dan modern beberapa hipotesa yaitu berupa kesadaran masyarakat dalam partisipasi memilih cagub dan bisa juga berdasarkan motif-motif. Peta Analisis Kesadaran Masyarakat, Paulo Freira (1970) mengatakan bahwa ada 3 ciri-ciri kasadaran, Kesadaran magic meliputi hal-hal yang sifatnya natural dan super natural, Kesadaran naïf meliputi etika,kreativitas, need achievecement dan Kesadaran kritis meliputi sistem sosial,ekonomi,politik dan budaya.  Harapannya masyarakat NTB memiliki kesadaran kritis dalam memilih cagub dan benar-benar mengharapkan transformasi dari NTB. Selain itu adapun motif-motif masyarakat dalam memilih calon gubernur yang di karenakan oleh motif sosiologis berdasarkan status sosial, persahabatan, dan suku/budaya atau motif biogenitis yang artinya berdasarkan kesamaan fisik berupa kulit serta motif teologis berdasarkan kesamaan agama. Nah, inilah beberapa hal yang membuat partisipasi masyarakat dalam memilih calon gubernur. Karena hal seperti ini dapat di jadikan alasan untuk menarik hati masyarakat. Namun kondisi masyarakat NTB dengan keberagaman suku dan budaya dari ujung barat sampai unung timur terdapat tiga suku besar yang mendiami daerah ini, sehingga motif-motif sossiologis dalam peta politik 2018 NTB masih dalam pertarungan sosiologis. 

Berbicara tentang keinginan masyarakat NTB pasangan calon gubernur harus memiliki power dan dukungan sosial. Power adalah suatu daya yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi orang lain. French dan Raven (1960) membedakan lima macam power yaitu penghargaan (reward), hukuman (punishment), legitimasi (legitimation), keahlian (expertice) dan rujukan (referent). Sangat jelas ketika mengajukan diri sebagai cagub NTB hal pertma yang di perkuat adalah power/kekuasaan sebagai reinforcement untuk menambah pengikut (sosial support). Demikian semua pasangan calon memiliki power untuk sampai ke singgasa kekuasaan tertinggi membawa NTB menyebrangi samudra-samudra sampai pada nawa cita founding Father.

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam memilih, pertama, factor imitasi atau sering kita kenal “topeng” menutupi identitas sesungguhnya, hal seperti ini sering di lakukan agar tercapainya sebuah tujuan. Kedua, factor sugesti yaitu mengambil alih orang lain agar dapat mengikutinya tanpa sebuah komentar atau kritikan. Sebenarnya ini sering kali di lakukan oleh calon dalam berpolitik seperti menjanjikan sesuatu dalam visi & misi yang belum dia kuasai. Seperti kata pepetah dalam bahasa Sumbawa “balong terong” yang artinya bagus diluar belum tentu bagus didalam. Maka hati-hati bermain api jika takut terbakar. Hati-hati memilih pemimpin jika takut menyesal dikemudia hari. Suara anda sangat menentuka nasib NTB kedepan, tatkala visi misi pasangan calon tentu membawa harapan nafas-nafas segar untuk perubahan.

Setiap calon gubernur pasti memiliki visi dan misi untuk perubahan NTB yang lebih baik. Dengan segala problem di NTB. Masyarakat NTB menginginkan hadirnya sebuah solusi untuk mengatasinya dan tak hanya sekedar janji. Nah, untuk itu masa depan NTB tergantung pada pilihan kawan-kawan. Sangat penting untuk mengetahui yang bersungguh-sungguh untuk membawa perubahan untuk daerah tercinta, daerah para Raja , daerah para bangsawan Nusa Tenggara Barat. 


penulis : Muslimin