3 Fakta Terbaru Gempa Lombok, Relawan Meninggal Dunia Hingga Kritik Untuk Distribusi Bantuan -->
Cari Berita

Advertisement

3 Fakta Terbaru Gempa Lombok, Relawan Meninggal Dunia Hingga Kritik Untuk Distribusi Bantuan

Sabtu, 25 Agustus 2018

(poster) 

Indikatorsumbawa.com - Di tengah penanganan korban dan dampak gempa Lombok, Presiden RI Joko Widodo melantik Menteri Sosial baru Agus Gumiwang Kartasasmita. Saat pelantikan, Jokowi menugaskan Agus untuk segera berangkat ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di kutip dari (kompas.com)

Potret korban gempa yang masih belum tersentuh bantuan yang cukup serta distribusi bantuan masih jadi sorotan. Sementara itu, seorang relawan yang bertugas di Lombok kembali meninggal dunia.

Berikut 5 fakta terbaru tentang bencana gempa bumi di Lombok, NTB:

1. Bantuan logistik "berhenti" di pemerintahan desa.

Korban gempa menunggu kedatangan Presiden Joko Widodo di Posko Pengungsian Dusun Karang Subagan, Desa Pemenang Barat, Pemenang, Lombok Utara, NTB, Selasa (14/8). Menurut data BNPB jumlah korban gempa yang tercatat hingga Senin (13/8/2018) menyebabkan 436 orang meninggal dunia dengan korban luka-luka sebanyak 1.353 orang, sementara jumlah pengungsi tercatat 352.793 orang. Warga korban bencana gempa di Mataram mengeluhkan bantuan logistik yang mengendap di pemerintahan daerah perwakilan desa.

Dilansir dari Antara, Sabtu (25/8/2018), kejadian tersebut terjadi di Desa Batulayar Timur, Lombok Barat atau di sekitar kawasan wisata Senggigi.

"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bantuan itu ada masuk ke desa, disaksikan juga sama Pak Bupati Lombok Barat, itu dua pekan yang lalu, sejak gempa 7 SR, tapi sampai sekarang belum juga sampai ke kita," kata Bahrain Arhap Hidayat, mantan Kepala Dusun Apit Aiq, Desa Batulayar.

Bahrain mengkhawatirkan nasib ratusan keluarga yang tersebar di dusunnya. Dia berharap adanya tindakan segera untuk membantu para korban bencana, khususnya di desanya.

2. Relawan PMI meninggal saat bertugas

Relawan PMI, Afni  Fastabiqul Strata Utama atau Tata (26) meninggal dunia saat bertugas di Lombok Utara. Jenazah telah dibawa ke kampung halamannya di Pekalongan Jumat sore.

Afni Fastabiqul Strata Utama (26), relawan Palang Merah Indonesia (PMI) asal Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, meninggal dunia saat bertugas membantu masyarakat terdampak gempa Lombok.

Afni atau yang akrab disapa Tata ini meninggal dunia pada Jumat (24/8/2018) pukul 07.30 Wita.

Dia bertugas di Lombok sejak 18 Agustus 2018 dan bergabung dalam Tim Water Sanitation Hygiene (WASH) PMI untuk bertugas selama satu bulan di Lombok.

Semasa hidup, mendiang bertugas mengantarkan air bersih dengan mengendarai kendaraan tangki air PMI untuk disalurkan ke masyarakat terdampak gempa di wilayah Lombok Utara.

3. TNI kekurangan alat berat untuk bersihkan puing-puing gempa

Warga memeriksa rumah mereka yang roboh di desa Sembalun, pulau Lombok pada 20 Agustus 2018 setelah serangkaian gempa bumi dicatat oleh seismolog sepanjang 19 Agustus. Menurut laporan pihak berwenang pada Senin (20/8/2018), setidaknya 10 orang tewas setelah serangkaian gempa kuat mengguncang pulau Lombok. Ini merupakan gempa baru yang berbeda dari gempa berkekuatan M 7,0 pada Minggu (5/8/2018) yang telah menewaskan ratusan nyawa dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mendapatkan laporan dari Kolonel Czi Ahmad Rizal selaku Komandan Penanganan Darurat Bencana Lombok mengenai kurangnya alat berat.

Alat berat itu digunakan untuk proses pembersihan puing-puing reruntuhan bangunan akibat serangkaian gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa waktu lalu.

"Tapi kendala utama di lapangan adalah kurangnya alat berat. Apabila alat berat itu ditambah, maka target satu bulan itu bisa diselesaikan dengan baik. Namun, apabila alat beratnya kurang, maka pekerjaan akan dilaksanakan dalam dua bulan," ujar Hadi sebagaimana dikutip siaran pers resmi TNI, Jumat (24/8/2018).

Menurut laporan itu, apabila alat berat berjumlah cukup, maka proses pembersihan puing itu dapat dilaksanakan dalam satu bulan saja.

Reporter: Muslimin
Editor     : Muhammad SS