Hidup Itu Butuh Berprasangka, Beginilah Cara Menguranginya -->
Cari Berita

Advertisement

Hidup Itu Butuh Berprasangka, Beginilah Cara Menguranginya

Sabtu, 11 Agustus 2018

foto: Ilustrasi Prasangka


Indikatorsumbawa.com - prasangka adalah suatu hal yang pasti di miliki oleh manusia, setiap orang pasti berprasangka, baik itu yang baik, ataupun itu yang buruk. prasangka tidak bisa di hilangkan dalam diri manusia namun bisa di minimalisir, beginilah Cara-cara mengurangi prasangka :

1.      Belajar tidak membenci
Beberapa orang tentu menyatakan bahwa anak-anak terlahir dengan prasangka yang sudah tertanam dengan kokoh. Namun, pada umumnya orang akan berpendapat bahwa fanatisme itu dibentuk, bukan dilahirkan. Mereka percaya bahwa anak mempelajari prasangka dari orang tuanya, orang dewasa lain, pengalaman masa kanak-kanak (contoh, Towles-Schwen & Fazio, 2001), dan media massa. Dengan cara apapun kita harus mencegah orang tua dan orang dewasa lainnya untuk melatih anak menjadi fanatic. Argument lain yang dapat menggantikan cara orang tua  mendidik anak-anaknya untuk menggembangkan toleransi bukan prasangka, adalah dengan menanam pemahaman bahwa prasangka membahayakan tidak saja korbannya tetpi juga mereka yang memiliki pandangan tersebut (Dovidio & Gaertner, 1993; Justim, 1991).

2.      Kontak Antarkelompok Secara Langsung : Keuntungan Potensial dan Melakukan Kontak
Hipotesis Kontak  adalah pandangan bahwa peningkatan kontak antara anggota dari berbagai kelompok ssosial dapat efektif mengurangi prasangka di antara mereka. Usaha-usaha tersebut tampaknya berhasil hanya ketika kontak tersebut terjadi di bawah kondisi-kondisi tersebut. Hipotesis kontak yang diperluas, menyatakan bahwa kontak langsung antara orang dari kelompok yang berbeda bukanlah inti dari  usaha mengurangi prasangka antara keduanya. Sebaliknya, efek yang menguntungkan dapat diperoleh jika orang yang terkait tahu bahwa orang dalam kelompok mereka sendiri menjalin persahabatan dengan orang yang berasal dari kelompok lain (contoh, Pettigrew, 1997; Wright dkk, 1997).

3.      Kategorisasi ulang : Membuat Ulang Batas antara “”kita” dan ”mereka”
Kategorisasi ulang adalah Perubahan dalam batas antara individu in group (“kita”) dan beberapa out group (‘’mereka”). Hasil dari kategorisasi ulang tersebut, orang yang sebelumnya dipandang anggota out-group sekarang dapat dipandang sebagai bagian dari in-group. Model identitas in group umum adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa sejauh individu dalam kelompok yang berbeda memandang diri mereka sendiri sebagai anggota satu kesatuan sosial, kontak positif di antara mereka akan meningkat dan bias antar kelompok dapat dikurangi.
4.      Intervensi kognitif : Dapatkah kita mengatakan “tidak” pada stereotip ?
Dampak stereotip dapat dikurangi dengan memotivasi orang lain untuk tidak  berprasangka – sebagai contoh, dengan membuat mereka menyadari norma-norma keadilan dan standard yang menuntut semua menerima perlakuan yang sama (Contoh, Macrae, Bodenhousen, & Milne, 1998). Ketergantungan pada stereotip dapat dikurangi dengan mendorong seseorang untuk memikirkan orang lain secara hati-hati – dengan lebih memperhatikan keunikan karakteristiknya daripada keanggotaanya dalam berbagai kelompok.
Ketika individu memiliki stereotip, mereka belajar untuk menghubungkan karakteristik tertentu (contoh, traits negative seperti “miskin”, “kebencian” atau “berbahaya”) dengan berbagai kelompok rasial atau etnis, yang akhirnya teraktivasi secara otomatis. Jika individu secara aktif berusaha mematahkan kebiasaan stereotip dengan berkata “tidak” pada trait stereotip yang mungkin dihubungkan dengan kelompok tertentu Kawakami & koleganya (2000) berpendapat bahwa prosedur tersebut dapat mengurangi ketergantungan individu pada stereotip.
5.      Pengaruh Sosial sebagai Cara untuk Mengurangi Prasangka
Prasangka juga dapat dikurangi melalui pengaruh sosial – member kesempatan pada individu dengan bukti yang menyatakan bahwa orang lain memiliki pandangan yang kurang berprasangka dibandingkan mereka.


Penulis : Muslimin (@abang.imin)