Pemimpin Tuli, Mahasiswapun Tak Bernyali? -->
Cari Berita

Advertisement

Pemimpin Tuli, Mahasiswapun Tak Bernyali?

Selasa, 21 Agustus 2018



Foto: (Penulis) 
Indikatorsumbawa.com - Hanya satu yang ku pinta darimu, Jangan pernah kecewakan hati yang sedang berlindung. Dalam buku Van der Wick, Zainudin pernah mengatakan hal serupa kepada Hayati untuk meneguhkan dirinya di depan sosok wanita yang ia sayangi dan kasihi.

Suatu hal yang lumrah  kata adalah komunikasi. Sebagian kalangan menafsirkan hanya kasih dan sayang dua mahluk tuhan di dalam buku Buya Hamka, tetapi ketika kita menarik benang merah dari buku ini ke pada cara memimpin maka, komunikasi, menghargai, dan satu tujuan yang di harapkan Zainudin kepada Hayati.

Pemuda dalam hal ini kalangan mahasiswa sejatinya perlu mengukuhkan dan memimpin diri dalam kehidupan. Dalam buku Buya Hamka yaitu Falsafah kehidupan, menuturkan bahwa “ Kalau hidup hanya sekedar hidup kera di rimba juga hidup, Kalau kerja hanya sekedar kerja kerbau juga bekerja . Benarnya hidup ini jangan egois atau bahasa gaul yang sering di katakan yaitu “ Jangan terlalu egoism, saudara”. Berpikir dahulu untuk melangkah dan berproses yang tidak sembarang berpijak, perihal wujud dari pemimpin.

Komunikasi, kritik, saran, dan saling mengukuhkan merupakan perihal yang di butuhkan pemimpin, terhadap orang-orang yang sudah berlindung di bawahnya, sebab mempunyai tujuan sama. Yaitu mengerahkan behtera pada dermaga. Artinya memanusiakan manusia dalam ke kayaan ilmu dan masa depan baik ada di genggaman mahasiswa.

Ketika hari ini, mahasiswa sudah tidak mempercayai pemimpinnya maka ada suatu perihal yang salah, mungkin kalangan pemuda ini sudah cerdas, bosan, sudah tidak relevan, kolot, atau yang terparah adalah pemimpin-pemimpin dalam sistem tidak cakap untuk mengawal mahasiswa yang sungguh banyak. Saya pikir pemimpin harus seperti predator ganas yang cepat lapar dan selalu menerkam mangsa (masalah) bukan predator yang lama lapar atau selalu kenyang karena merasa sudah tidak ada mangsa.

Saya meragukan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya di tanyakan ke saya, mungkinkah gerangan, Pemimpin siapa ?, Kuliah di mana ?, Organisasi apa ?, dan Internal atau Eksternal kampus ?. Karena saya menganggap alam bawah sadar manusia dalam konteks mahasiswa sangatlah peka, maka pertanyaan di atas tidaklah pantas di tanyakan ke saya tetapi kepada pemimpin kalian masing-masing, bahwa saya dan saudara yang budiman hatinya meragukan kepemimpinan pemimpin yang ada saat ini.

Di dalam buku Neil Postman yang berjudul Selamatkan anak-anak, merupakan penulis yang sedikit menggambarkan petak lahan basah yang perlu di kawal dan diselesaikan mahasiswa, . Saya berpikir masalah ini seperti objek yang ada di depan mata tetapi tidak ada pergerakan untuk menyelesaikannya, Mungkinkah mahasiswa radang (sakit tenggorokan) sampai gagal melawan.

Janganlah cepat menyimpulkan bahwa saya hanyalah berbicara omong kosong. Dalam data yang di himpun, mengatakan bahwa ada beberapa keanehan mengenai tindak dan tanduk mahasiswa, pemimpin, dari kampus di Indonesia.

Wujud yang di tampilkan dari data adalah SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan), Mahasiwa sangatlah akrab yang mana sebagai syarat untuk melanjutkan ke semester selanjutnya, tetapi sumbangan pembinaan pendidikan saat ini di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) semakin melonjak, stigma yang di bagun adalah sumbangan namun secara perlahan-lahan birokrasi kampus mencekik mahasiswa.belum lagi pisau analisa yang berkiblat di Tri dharma semakin lemah nan pragmatis.

Pembaca yang budiman, Mahasiswa yang berada di PTN atau PTS saat ini sungguh pintar, bukti objektivnya yaitu Indeks Prestasi (IP) namun belum mampu menjadi insan yang peka akan isu-isu konteporer, di gabungkan menjadi premis dan berakar masalah.

Pesan saya teruntuk pemimpin kekinian, seperti apa yang di katakana Najwa Syihab bahwa, Menjadi pejabat hari ini, mesti menyesuaikan diri dengan kondisi, Piawai memanfaatkan media sosial, sebagai alat aktual agar sosok dapat terus di jual.

Tapi kerja sebenar-benarnya butuh bukti, menghasilkan karya yang memang teruji. Jika pemimpin mau menyerap aspirasi,  tentu rakyat juga yang akan mengapresiasi. Karena jadi gaul saja tak mencukupi, kepemimpinan harus tahan banting.

Mungkin itu saja yang dapat saya tulis, semoga tulisan ini bisa menjadi bahan koreksi diri saya dan diri pembaca yang budiman.

Penulis : Muhammad Fachrul Kilwouw
Editor   : Muslimin