Empati Vs Kejahatan, Bencana Gempa NTB Diduga Sebagai Starategi Politik Jokowi? -->
Cari Berita

Advertisement

Empati Vs Kejahatan, Bencana Gempa NTB Diduga Sebagai Starategi Politik Jokowi?

Selasa, 04 September 2018

Foto: ilustrasi pencitraan (nusantaranews.co)
Indikatorsumbawa.com - Perhalatan besar penutupan asian games 2018 adalah hajatan negara, penutupan asian games jokowi memunculkan background baru dalam kanca perpolitikan nasional, jokowi memulai pidato penutupan dari Lombok, pusat gempa bumi nusa tenggara barat (NTB), menariknya, acara sebesar asian games tidak dihadiri oleh orang nomor 1 di indonesia.

Realitas ini dikemas dengan rapi, banyak perspektif tentang jokowi. Namun yang ingin saya garis bawahi dalam tulisan ini adalah empati vs kejahatan politik yang dianalisa dalam 3 aspek. 

Pertama yaitu, jokowi telah hadir ke Lombok sebanyak 3 kali. Baru kali ini presiden menghadiri ke daerah sebanyak 3 kali dalam waktu berdekatan, dalam kontek apapun. Biasanya seorang presiden kunjungan kerja hanya 1 kali dengan rentetan waktu yang tidak berdekatan. Apakah jokowi benar-benar peduli, semoga saja. Positif aja. Pembacaan masyarakat harus lebih dalam. 

Kedua, penutupan asian games 2018, sekali dalam sejarah. Kenapa jokowi tidak menghadirinya?  Selesai asian games kan bisa ke Lombok, sebelum penutupan asian games kan bisa ke Lombok?  Kenapa harus pas penutupan asian games? Inilah realita politik yang coba di bangun oleh kubuh jokowi. Kita sudah kenal jokowi sejak lama, pola yang di mainkan dari dulu sebenarnya tidak berubah, cuma di kemas dengan moderen dan disaksikan oleh pemimpin negara Asia kalau dia benar-benar merakyat (pencitraan). Ini khasnya jokowi. Karekter politiknya di kemas dengan rapi. 

Ketiga, bencana bukanlah kehendak manusia, diluar kemampuan manusia, datang dan pergi dengan tiba-tiba. Dalam kontek kehadiran Jokowi 3 kali berturut turut.  Jika pembacaan politik bencana ini dalam bentuk kemanusian maka ini suatu sikap negarawan seorang presiden. Namun sebaliknya, jika bencana gempa dijadikan isu sentral sebagai alat perpolitikan pilpres 2019, dengan tegas ini suatu kejahatan kemanusiaan, mengambil kesempatan politik dalam kesempitan penderitaan rakyat. 

So, apakah jokowi benar - benar peduli bencana Lombok?  Kenapa statusnya bukan bencana nasional monggo dipikir sendiri? Kalau di nasional kan Jokowi gak perlu capek-capek bolak balik lombok. Toh, walaupun ini hanya diperalat sebagai momen politik. Siapa yang peduli? masyarakatkan sudah cerdas. KATANYA!!!! 

Penulis : Muslimin (ig: @abangimin)