Kampus Tempat Hedonisme Millenial -->
Cari Berita

Advertisement

Kampus Tempat Hedonisme Millenial

Rabu, 05 September 2018

Foto: ilustrasi 
Indikatorsumbawa.com - Apakah Kampus masih menjadi wadah intelektual mahasiswa?

Sebelum kita menuju jawaban pertanyaan di atas, kita perlu mendefinisikan kembali apa yang dilakukan kampus sebagai wadah pengembangan intelektual mahasiswa atau tidak?

Pertanyaan diatas bisa diobjektifikasi oleh kita bersama berdasarkan sejarah karena kampus seyogyanya harus menjadi wadah pengembangan intelektual mahasiswa bukan malah menjadi wadah menjadikan mahasiswa kembali menjadi hedonis.

Wadah westernisasi mulai menjalar hingga masuk dalam kampus yang sejauh ini masih dikonotasikan sebagai lembaga yang mampu membentuk keperibadian, kepemimpinan dan kualitas keilmuan yang digeluti oleh setiap mahasiswa yang ada didalamnya.

1. Hilangnya Etika Pendidikan Indonesia.

Momentum penerimaan mahasiswa baru pada hakikatnya dijadikan kampus sebagai sarana pengenalan kampus terhadap setiap aktifitas yang akan dilakukan mahasiswa selama ber studi di kampus tersebut. Namun hal ini sudah agak bergeser dengan realitas pendidikan indonesia yang kemudian kampus sudah dijadikan sebagai wadah hedonisme mahasiswa dengan mendatangkan "Artis Zaman Now" untuk menghibur mahasiswa pasca melakukan pengenalan studi mahasiswa. Apakah ini yang diharapkan kampus? Sangat tidak fair ketika persoalan menjalarnya paham islam "Kekirian" kampus sangat bersemangat (Sebut saja semangat 45) untuk membasmi layaknya tikus got yang layak dibasmi. Tapi kali ini kampus seakan kehilangan Moral dan etika pendidikan. Mungkin kita perlu berdoa agar senantiasa kampus bukan hanya dijadikan wadah mencari "Ongkos" bukan mencari intelektual.

Mahasiswa agen perubahan suatu bangsa, karena ditangannya lah sebuah perubahan di masyarakat dapat terjadi. Kita lihat lagi sejarah penumbangan rezim yang berkuasa di masa orde baru oleh para mahasiswa. Mahasiswa memiliki kekuatan yang dapat menakuti sebuah rezim. Ia berani menyuarakan setiap kebijakan yang tak sesuai  di hadapan penguasa.

2. Intelektual Muda Pemimpin Perubahan Bangsa.

Intelektual muda di tangan mereka sebuah perubahan dapat tercapai. Intelektual muda yang masih memiliki darah muda, jiwa muda, dan semangat muda dengan berani menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa. Intelektual muda berani menolak kebijakan dan peraturan yang tak sesuai dengan hukum dan norma yang berlaku. Kebatilan yang telah melanda negeri telah memberikan efek buruk bagi rakyatnya. Sebagai intelektual muda jangan takut dibungkam oleh penguasa, apalagi suara intelektual muda mampu dibeli oleh penguasa. Serukan perjuangan Iuntuk melawan tindak kezaliman dan kebatilan yang melanda negeri.

Penulis : Wakid Atamimi (Mahasiswa UMM & Pemerhati Pendidikan)