Korlap Aliansi BEM Se-NTB Laporkan Aparat Soal Penganiayaan -->
Cari Berita

Advertisement

Korlap Aliansi BEM Se-NTB Laporkan Aparat Soal Penganiayaan

Rabu, 26 September 2018

Foto: Rahmat dan Liga melaporkan aparat yang melakukan kekerasan saat aksi 24 september 2018.
Indikatorsumbawa.com - Kericuhan yang terjadi dalam aksi demonstrasi Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusa Tenggara Barat (NTB) Raya, pada Senin siang (24/9) lalu, ternyata menimbulkan efek yang berkepanjangan. Kekerasan yang diduga dilakukan oleh aparat kepolisian itu pun akhirnya diadukan ke Kepolisian Resor (Polres) Mataram.

Koordum Aksi, Presma BEM Universitas Mataram (Unram) Liga Ayun Selatan mengamini hal tersebut. Dia bersama Koorlap Aksi II Rahmat EN, selaku korban kekerasan mengadukannya ke Bidang Provesi dan Pengamanan (Propam) Polres Mataram, Rabu (26/09/18).

"Kedantangan kami ke sini untuk mengadukan terkait tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh aparat kepolisian saat BEM NTB Raya melakukan aksi di DPRD NTB pada hari Senin lalu," kata Presma BEM Unram Liga Ayun Selatan di hadapan Kabid Propam Polres Mataram, AKBP Arsyad, di Kantor Kapolres Mataram, Rabu (26/09/2018).

"Koorlap II diinjak-injak oleh aparat kepolisian pengawal aksi. Kronologisnya, ketika kami meminta Ketua DPRD NTB keluar menemui massa aksi, yang datang malah sub bagian umum. Hal demikian membuat Aliansi BEM NTB Raya kecewa," sambung mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisni (FEB) Unram ini.

Setali tiga uang, Koorlap Aksi II Aliansi BEM NTB Raya Rahmat EN juga membenarkan hal tersebut. Bahwa keributan terjadi sesaat ketika Humas DPRD beralasan bahwa di dalam Gedung DPRD NTB masih berlangsung penyampaian visi-misi Gubernur NTB Terpilih, sementara diketahui Pak Gubernur sudah meninggalkan gedung tersebut.

Hal tersebut akhirnya membuat massa aksi kecewa, kata Rahmat, akhirnya 3 orang menerobos masuk dan dipukul mundur oleh aparat kepolisian beserta satpam.

"Melihat kawan-kawan saling dorong dengan aparat, saya selaku Koorlap meloncat pagar/menerobos masuk untuk melerai dan mengamankan peserta aksi. Tetapi saya malaj mendapatkan tendangan kemudian terjatuh, lalu diinjak-injak oleh aparat kepolisian sampai pingsan," terang Rahmat.

Kabid Propam Polres Mataram, AKBP Arsyad pun menanggapi, bahwa dirinya akan berusaha menyelesaikan permasalah tersebut. Menurutnya, perlakuan oknum yang diduga aparat kepolisian itu harus ditindak.

Dia pun meminta kepada pengadu untuk menunjukan bekas luka dan beberapa foto/video yang menguatkan dugaan kekerasan aparat kepolisian sewaktu aksi tersebut.

Ketika diminta menunjukan bukti, aku Liga, Rahmat memperlihatkan bekas luka pada tangan dan perutnya, kemudian memperlihatkan video pengeroyokan aparat kepolisian terhadap mahasiswa sewaktu aksi di DPRD NTB.

Setelah melihat beberapa bukti itu, AKBP Arsyad akhirnya meminta nomor handphone Liga dan Rahmat, sembari menegaskan bahwa ia akan mengusut masalah tersebut.

"Nanti saya akan menelpon kalian berdua untuk membahas lagi perihal dugaan kekerasan itu. Bahkan tidak menutup kemungkinan terkait ini, akan dilakukan hearing," pungkas Pak Arsyad. (Min)