Rencana Begal Dan Janji Jalan Aspal Hingga Lawas Mengkutik -->
Cari Berita

Advertisement

Rencana Begal Dan Janji Jalan Aspal Hingga Lawas Mengkutik

Selasa, 04 September 2018

Foto: Rusdianto Samawa. 

Indikatorsumbawa.com - Saya star dari rumah Bonto Tarano menuju Desa SP3 Blok ABC. Kendaraan saya waktu ituVario Hitam. Jadwal saya sangat padat sekali. Kalah-kalah anggota DPR incumbent. Seorang kakanda atau senior dalam keluarga pernah bilang "belum ada caleg jadwal roadshow seperti ini, sepadat jadwal Rusdianto karena satu desa pertemuan perhari bisa melebihi 4 tempat." Begitu katanya.

Aku start dari Bonto, mampir di Aiboro, Sepayung, Marpe, dan langsung ke SP3 melalui Desa Batu Putih. Dicabang Batu Putih samping masjid Dusun Marpe, tepat depan pohon asam kecil, aku bertanya kepada seseorang yang tidak ku kenal namanya.

Orang tersebut, kelihatannya seperti preman: rambutnya pirang, tidak bersandal, kulitnya hitam legam. Tentu punya teman dua orang: rambutnya pirang sebelah kiri dan putih sebelah kanan.

Setelah aku bertanya kepada orang tersebut, lalu aku bergegas masuk ke Dusun Batu Putih. Sempat bertanya disala satu Kios / Toko kecil milik masyarakat. Jawabannya: diarahkan ke arah Timur dengan berkata: "sia teris lako ana, mundi ada katemung ke jembatan sia luris kabali na." (Jalan terus pak, nanti ada ketemu jembatan dan langsung lurus lagi).

Kemudian, aku terus berjalan, mulai masuk jalan pengerasan. Sampailah disebuah jembatan, lalu aku berhenti sejenak: perbaiki tas dan keranjang plastik berisi: "Taranografi Rusdianto".

Tiba-tiba dari belakang, ada suara motor jeketer merek Suprafit. Boncengan tiga orang. Ternyata sampai di depanku: orang yang ku tanya di Dusun Marpe cabang masuk Batu Putih tadi. Benar sekali.

Saya lihat gelagat, bahasa tubuh, cara bertanya. Dua orang sudah turun. Aku berfikir mereka akan menyerang saya. Kebetulan di tas ada uang sebanyak 200 ribu rupiah, handpone merek Oppo, power bank merek Veger 22.500 mAh, kabel cas, ada identitas: ATM, Paspor, KTP, Buku Nikah, Buku Tabungan: BRI, BNI, BCA, MANDIRI, OCBC, dan PERMATA dan kartu-kartu transaksi elektronik lainnya: e-mart, e-Toll, eMoney, e-Pay, e-Android dan banyak kartu lainnya.

Lalu mereka bertanya: pertama yang nanya yang berambut pirang, orang yang setir motor: "Hei kamu mau kemanakah?," dia bertanya kepadaku. Kemudian, aku menjawabnya: "Mau ke SP3". Lalu dia bertanya lagi: "Kerumah siapa di SP3?". Aku jawab lagi dia: "Kerumah teman saya." Dia bertanya kembali: "Temanmu siapa? sambil melirik tas yang berada diposisi depan." Aku jawab kembali mengikuti ritmenya: "Banyak teman saya di SP3: Ada Polisi, Tentara dan Mahasiswa." 

Kemudian, aku sengaja telpon kepolisian di depan mereka, agar bisa memasang pos polisi disekitar Batu Putih dan pintu masuk SP1, SP2, SP3 dan SP4. Setelah mendengar saya telpon kepolisian: mereka langsung putar balik motor dan lari.

Kemudian, aku lanjut perjalanan masuk Desa SP. Kondisi jalan bebatuan, gelombang, pembangunan jembatan dan pengerasan jalan sedang dikerjakan. Dalam perjalanan, tak ada ketemu petani. Hanya ketemu kerja proyek jembatan dan masyarakat yang memakai motor bolak balik.

Lalu, aku tiba dipintu gerbang SP3, kemudian aku berhenti sejenak dirumah Amaq Nasrullah, pas dipojok pertigaan. Yang membuat aku dibohongi ketika aku menelpon seorang bernama "Cecep orang SP3" yang katanya mau menemani saya keliling SP3 ke masing-masing blok. Ternyata tak ada konfirmasi hingga saya menuju rumah "Immawati Salmah" Blok A Desa SP3.

Kemudian, aku segera menuju rumah "Immawati Salmah" di Blok A SP3. Disana aku diterima langsung oleh "Immawati Salmah dan keluarga besarnya. Aku duduk: Ngopi bareng bersama keluarga dan diskusi menyampaikan hajat dan niat untuk maju sebagai Calon Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa Dapil III Nomor Urut 8 Partai Persatuan Pembangunan Nomor 10.

Setelah diskusi bareng, sekiranya 2 jam. Lalu aku pamit pulang karena sudah menjelang sore hari. Aku pamit, cium tangan keluarga "Immawati Salmah" dan menitip pesan "Insya Allah kita berjuang bersama." Aku segera saja keluar dan menuju arah Pamunga. Keluarnya di Dusun Pamunga Desa PPN Kec. Plampang. 

Diperjalanan aku videokan seluruh jalan desa SP3 mulai dari masuk Dusun Batu Putih hingga keluar lewat Pamunga. Konon, cerita masyarakat yang berkumpul waktu dialog, diskusi dan ngopi bareng dirumah Salmah bahwa "Janji Aspal itu adalah Janji bupati waktu kampanye, hingga hari ini belum direalisasikan."

Perjalanan keluar SP3 melalui Pamunga cukup jauh, tetapi jalan pengerasan itu sangat bagus dan halus. Lalu di jalan ketemu seorang petani bernama "Nasrullah dan Mulyadi." Saya berhenti sejenak, berdialog: "Bapak me kena sia?," saya bertanya kepada bapak Nasrullah. Kemudian, beliau menjawab: "Ya tu mole lako Pamunga." Demikian jawabannya.

Lanjutnya lagi bertanya: "Kaleng me Anak." Saya menjawab: "Kaleng SP3 sosialisasi." Lalu beliau lanjutkan pertanyaannya: "Sosialisasi apa?," kemudian aku menjawab: "Sosialisasi untuk pencalegan pang bale dengan kaji."

Tidak lama bapak Nasrullah, memberi aku pesan melalui pantun sebagai pesan buat para Caleg: "Dadi Caleg, Tama Partai Politik, Tokal Pang Kursi Plastik, Rakyat Mate Mangkutik Karena Suka Koruptif."

Dari lawas Mangkutik itulah bahwa sesungguhnya menjadi pejabat pemerintahan, dan anggota DPR sebaiknya memberi yang terbaik kepada rakyat dan berbuat maksimal untuk kesejahteraan masyarakat.

Penulis : Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)