Westernisasi Pacuan Kuda Sumbawa, Kuda Lokal Mulai Punah -->
Cari Berita

Advertisement

Westernisasi Pacuan Kuda Sumbawa, Kuda Lokal Mulai Punah

Sabtu, 01 September 2018

Foto: Penulis (pengemar pacuan kuda Sumbawa) 
Indikatorsumbawa.com - Pacuan kuda (main jaran) sebagai budaya leluhur orang Sumbawa/tau Samawa yang di turunkan secara turun temurun mulai terkikis atas kehadiran kuda luar daerah. 

Penulis ingin mengkritik tentang 4 aspek dalam perkembangan pacuan kuda Sumbawa yang mulai hilang dampak modernisasi sebagai wujud nyata keterlibatan kuda Australia, kuda barat dan kuda Sumba dalam pacuan kuda Sumbawa. 

Pertama, Kuda di pulau Sumbawa sangat berbeda dari kuda-kuda daerah yang lain, ciri khas itu dapat kita lihat dari ukuran badannya yang kecil di bandingkan kuda dari Sumba dan Australia. 

Keterlibatan Kuda Sumba dan Australia dalam pacuan kuda Sumbawa, membuat kuda lokal mulai kalah saing untuk di pertahankan di arena, fenomena ini dapat kita temukan di berbagai arena dari Bima sampai Kabupaten Sumbawa Barat. 

Kehilangan eksistensi dari kuda lokal Pulau Sumbawa akan berdampak jangka panjang pada kepunahan kuda Sumbawa di arena pacuan kuda, sehingga tontonan pacuan kuda, menampilkan panggung ala modern dan pacuan kebarat-baratan, bukan identitas murni kedaerahan. 



Kedua, terkait tentang adanya sandro atau soko guru spritual kuda pada pacuan kuda sumbawa. Sandro sangat identik dengan pacuan kuda, namun kondisi riil yang terjadi sekarang, ketidakterlibatan sandro dalam pacuan kuda mulai terkikis atas masuknya westernisasi dalam pacuan kuda Sumbawa. 

Sandro biasanya sebagai orang yang medoakan joki cilik dan menempatkan kuda sebagai tempat terbaik untuk menaikan joki cilik, biasanya ini sering terlihat ketika sandro menaiki joki cilik ke atas kuda tepat di depan tribun penonton. Namun sekarang mulai tidak beraturan, bahkan sudah tidak ada lagi keterlibatan sandro di dalam pacuan kuda. 

Ketiga, tentang joki cilik, joki cilik adalah penunggang kuda kecil nan hebat mengendarai kuda. Namun, sampai saat ini dapat di hitung dengan jari tangan joki cilik dari Bima sampai KSB. 

Terkikis joki cilik sebagai salah satu alasan masuknya kuda besar atau kuda Asutralia, dulu sangat kita kenal kenapa kuda Sumbawa kecil karena penunggang kuda kecil. 

Sangat berbahaya jika ini di biarkan terus menerus mempengaruhi budaya adat, Kehadiran Kuda Australia atau Kuda Sumba membuat kuda Lokal mulai menghilang di arena pacuan kuda. 



Keempat, politisasi kebudayaan pacuan kuda Sumbawa, pacuan kuda Sumbawa murni kegiatan adat, permainan daerah, substansi sebuah identitas nilai luhur. 

Namun apa yang terjadi sekarang, banyak ditemukan di arena pacuan untuk mempolitisasi pacuan kuda, jadi orang berpacuan itu hanya mengejar nama aja, bukan semata untuk mempertahankan adat, segala jenis kuda digunakan agar namanya jadi sang juara. Oleh karena itu, kuda-kuda di Pulau Sumbawa mulai punah yang disebabkan oleh politisasi pacuan kuda oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. 

Sehingga harapan penulis bahwa pacuan kuda disumbawa jauh populer dari tahun sebelumnya, karena bukan hanya orang sumbawa yang bermain pacuan kuda di sumbawa,ada juga orang Sumba, Lombok bahkan orang Jakarta ikut berpartisipasi dalam acara pacuan kuda. Masyarakat Sumbawa sendiri tidak sadar bahwa budayanya sendiri sedikit demi sedikit hilang, padahal ini adalah salah satu permainan sumbawa yang sudah turun menurun sejak populer era sultan kaharuddin III. Harapan dari penulis untuk ketua pordasi yang baru agar lebih mendominasi kuda sumbawa agar lebih banyak ketimbang kuda sumba, seperti yang dilihat dipacuan kuda banyak kuda sumba disatukan kelasnya dengan kuda sumbawa, sementara yang kita ketahui bahwa kuda sumba lebih besar dan tenaganya jauh besar, jadi tidak sebanding.

Penulis: Bagaskara
Editor   : Muslimin