Agama Dalam Perspektif Gerakan Politik dan Tokoh Agama -->
Cari Berita

Advertisement

Agama Dalam Perspektif Gerakan Politik dan Tokoh Agama

Selasa, 02 Oktober 2018

Penulis (Muslimin/Leon Festinger).
Indikatorsumbawa.com - Terdapat sikap dualisme terhadap agama. Agama yang di anggap sebagi suatu ajaran yang bersumber pada kebenaran dan terdapat tentang keyakinan terhadap Keberadaan Tuhan, rasul-rasul utusan Tuhan, dan keyakinan terhadap kebadian jiwa serta balasan baik buruk di akhirat. Yang dalam bukunya Komaruddin Hidayat dikatakan ada tiga aspek yang paling menonjol dalam agama, yaitu meyakini adanya Tuhan, meyakini kehidupan setelah kematian, dan aktivitas ritual untuk berdoa kepada Tuhan.

Dilain sisi ada sekelompok pemikir dan gerakan politik yang menganggap agama adalah prodak manusia dan tidak mampu menjawab dinamika kehidupan manusia, dan gerakan politik yang terang-terangan membeci agama dan berusaha membasminya dalam kehidupan umat manusia, faham dan gerakan komunisme-ateisme misalkan yang secara terang terangan berusaha membasmi agama, dengan tokohnya karl marx, friedrik enggel.

Pada waktu yang bersamaan ada sekelompok orang yang percaya bahwa agama adalah sumber atau rujukan dalam menjalin kehidupan yang rukun antar umat. Mengutip pendapatnya prof. Komaruddi hidayat, agama itu mempunyai seribu nyawa. yang artinya ungkapan ini mau menegaskan bahwa jangan membayangkan agama akan lenyap dari panggung sejarah umat manusia. 

Kebencian sekelompok orang pada agama memang cukup beralasan. Antara lain disebabkan oleh perilaku sebagian umat beragama yang dengan dalil membela Tuhan dan menyebarkan agama justru telah menciptakan perpecahan ditengah masyarakat, bahkan mengeras jadi peperangan. Tak ada konflik dan perang yang paling panjang dan berdarah-darah selain perang antar kelompok agama. 
Dalam satu bentuk kepercayaan umat manusia. Sering timbul permasalahan yang seolah tidak mampu dibendung dan terjadi pengklaiman kebenaran akibat perbedaan penafsiran terhadap teks, lagi-lagi kalau benar-benar direnung konflik yang timbul bukan panggilan hati melainkan panggilan berbagai macam kepentingan. Dari kalangan relijius misalkan terjadi perbedaan penafsiran terhadap teks sehingga berujung perpecahan dan konflik besar besaran. 

Keyakinan dan nama Tuhan dibawa-bawa untuk memenangkan peperangan. Dan ironisnya lagi perang itu diyakini sebagi perang suci dan harus dilakukan. Seolah sebuah sikap yang menyucikan dan memuliakan pertumpahan darah antar sesama hamba Tuhan, disebabkan perbedaan doktrin, pemahaman, dan keyakinan agama.

Selain itu suatu ajaran tentu dan pastinya mengajarkan kebaikan dan rukun dalam perbedaan, mengutip pendapatnya Abdul Rahman Wahid “ajaran tauhid menegakkan penghargaan kepada perbedaan pendapat dan perbedaan keyakinan. Kenyataan adanya perbedaan tentunya perlu ada uji coba untuk menajamkan kebenaran agama masing-masing keyakinan dan dengan demikian merupakan proses untuk membuktikan keampuhan konsep keimanan sendiri”. Yang artinya suatu ajaran tentunya mengajarkan kepada kita untuk menghargai perbedaan, dan keutuhan dan kebenaran suatu ajaran tentunya harus di uji dalam dinamika perbedaan.

Perbedaan merupakan kekayaan dan sudah merupakan keharusan dalam berkehidupan. kedewasaan berpikir penganut suatu ajaran tentunya bagaimana bisa hidup rukun dalam perbedaan dan kalau benar kita menghayati perbedaan bukan dijadiakan sebagai penghalang atau pemisah dalam menciptakan kerukunan, melainkan perbedaan adalah suatu keniscayaan dan memiliki nilai keindahan tersendiri. Karena secara akal sehatpun tidak mungkin Tuhan menciptakan manusia bermusuhan karena perbedaan melainkan bagaiman kita bisa terima dan bisa hidup rukun. pengujian kebenaran suatu ajaran adalah bagaimana ajaran tersebut bisa diterima oleh manusia dan mampu menyesuaikan dengan kemajuan jaman dan bukan malah sebaliknya.

Akhir kata, jika nalar sehat, cinta kasih, dan ketulusan hati tidak menyertainya, maka tidak berlebihan mengatakan agama memang sumber konflik dan pertengkaran.

Penulis: Muslimin