Kisah Ruslan: Balada Galaunya Guru Honorer -->
Cari Berita

Advertisement

Kisah Ruslan: Balada Galaunya Guru Honorer

Minggu, 21 Oktober 2018

Ilustrasi (policeline.co).
Indikatorsumbawa.com - Ada sejarah dan cerita tersendiri yang dialami secara langsung oleh Guru honorer. Keluarga Ruslan dan Haerunnisa misalnya. Mereka memiliki dua orang anak. Tahun 2015 masih anak satu. Sekarang 2018 sudah anak dua.

Cerita Ruslan menjadi seorang Guru Honorer di MAN 3 Sumbawa. Ceritanya ini sungguh tak mengerti, ya begitulah keadaannya. Sekitar tahun 2010, Ruslan lulus dari Pendidikan Geografi Universitas Muhammadiyah Mataram Fakultan Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Ruslan memilih pulang kampung, saat itu sudah dalam status menikah. di Dusun Tiu Sangat Desa Labuhan Bontong, memilih mengajar bersama berdua dengan istrinya. Ruslan sendiri mengajar di MAN 3 Sumbawa berstatus Guru Honorer. Sementara istrinya mengajar di SMA Muhammadiyah Labuhan Liang.

Pada waktu pertama masuk setelah diterima mengajar. Sekolah mengupayakan jam mengajar sekitar 4 jam per sehari setiap seminggu. Begitu juga istrinya di SMA Muhammadiyah Lab. Liang.

Ruslan menjalani mengajar itu selama dua setengah tahun. Namun, pola ikhlas beramal sholeh, tidak mengharapkan gaji apapun. Yang penting ada aktivitas mengajar dan dipandang oleh masyarakat.

Tetapi lama - kelamaan, Ruslan sendiri tidak tahan dan memilih bermalas - malasan pergi mengajar. Hal itu disebabkan karena gaji diterima pertiga bulan sekitar Rp.500.000 (Lima Ratus Ribu Rupiah).

Faktor lainnya karena saat pergi mengajar, masyarakat melihat bangga. Tetapi masa-masa tidak mengajar: pekerjaannya "Adu Ayam" atau "pertandingan ayam". Sementara kebutuhan hidup keluarga: susu anak, baju, beras, listrik, dan bensin, tetap menjadi kebutuhan yang sangat mengidola setiap hari untuk dikocek recehnya. Demi sebuah laku hidup untuk bertahan.

Ruslan juga terkadang, semasa jagung menanam jagung. Meminjam uang bank program KUR (kredit Usaha Rakyat) untuk modal menanam jagung. Artinya ada usaha yang dilakukan, dibanding yang lain.

Tapi sebagai seorang Guru Honirer masih jauh dari sejahtera. Selain kecil, kadang gaji yang diterima tidak dibayarkan secara rutin per bulan sekali. Guru honorer sendiri di antaranya terbagi menjadi honorer kategori satu (K1) dan kategori dua (K2). Bedanya, hanya dari alokasi anggaran.

Ruslan sudah mengerti kondisi pendidikan dan pola gaji serta pendapatan Guru Honorer. Sebagai mantan Aktivis Presiden BEM (badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Muhammadiyah Mataram, Ruslan terkadang malu kalau saja aktivitasnya "mengajar, adu ayam dan tanam jagung" yang kadang sangat menyedihkan itu. Tentu, aktivis greatnya lebih menjulang.

Ruslan dan istrinya Haerunnisa, termasuk Guru Honorer K2 berasal dari dana bantuan operasional sekolah (BOS) atau komite sekolah. Sementara Honorer K1 dapatkan gaji dari alokasi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) atau pendapatan dan belanja negara (APBN).

Ruslan dan Haerunnisa, rata-rata gaji honorernya di bawah Rp 500 ribu per bulan. Ironisnya, gaji tersebut kadang tak dibayarkan rutin per bulan.

Waktu itu, penulis sedih. Ruslan menyodorkan data Guru Honorer tahun 2018. Betapa rapuhnya rasa keadilan dinegeri ini dan pemerintah tidak perhatikan Guru Honorer.

Pada tahun 2018 Guru yang sudah sertifikasi: 16.209 jiwa dan Belum bergelar sarjana S1: 262 jiwa. Sementara, jumlah guru honorer di sekolah negeri: 735.625 jiwa. Yang belum sertifikasi: 719.354 jiwa. Yang belum sertifikasi bergeral S1: 145.467 jiwa. Yang sudah sertifikasi bergelar S1: 569.887 jiwa.

Kalau Guru PNS Tahun 2018: sudah sertifikasi :sejumlah: 1.095.128 jiwa dan yang belum sertifikasi bergelar Sarjana sejumlah 82. 112 jiwa dan sudah: 1.013.016 jiwa

Kemudian, jumlah guru PNS di sekolah negeri 1.378.940 jiwa. Belum sertifikasi: 283.812 jiwa. Belum S1; 801.379 jiwa dan sudah S1: 203.433 jiwa.

Lebih dari satu juta guru honorer dinilai tidak memiliki hidup layak. Pertama: banyak bertempat di daerah 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan). Kedua: Gaji yang amat rendah dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup. Ketiga: Gaji yang tidak turun selama berbulan-bulan dan tersendat. Keempat: Guru honorer yang tersertifikasi tidak mendapatkan tunjangan di luar gaji pokok yang amat rendah.

Dari data diatas, kisah Ruslan itu sangat tragis dalam kehidupan masyarakat Guru Honorer yang tidak diperhatikan. Itu menandakan sebuah ketidakadilan antara pemerintah dengan rakyatnya, apalagi guru honorer yang menjamur dan tak terpedulikan sama sekali.

Ruslan sendiri sebagai kepala keluarga diharuskan untuk mengambil keputusan agar dapur keluarga bisa mengepul setiap hari. Apalagi, kedua orangtuanya sangat bergantung pada kehidupan Ruslan dan istrinya Haerunnisa.

Akhirnya, Ruslan memutuskan berangkat ke Jakarta. Meminta pekerjaan kepada kedua mertuanya. Ruslan bekerja sebagai scurity sebuah perusahaan di Jakarta. Tentu, gajinya lebih besar dari Guru Honorer sekitar Rp. 12.000.000.00 (dua belas juta rupiah). Kendati, istrinya Haerunnisa sendiri tinggal dirumahnya di Sumbawa sambil mengajar di SMA Muhammadiyah Labuhan Liang, Desa Labuhan Jambu.

Tidak lama bekerja, Ruslan tidak tahan dan meminta berhenti di perusahaan tempat ia bekerja. Tentu berhenti karena mengejar target pekerjaan lain yang lebih terhormat dan sesuai dengan bakat, gerakan dan minatnya. Kemudian, Ruslan resmi berhenti dari perusahaan. Lalu pulang kembali ke kampung halaman dan mengikuti test Calon Pimpinan Bawaslu Kab. Sumbawa. Akhirnya, berhasil menjadi capim Bawaslu Kab. Sumbawa hingga sekarang ini.

Dari kisah diatas, kita bisa ambil hikmah bahwa perjalanan keluarga orang lain yang sudah diatur oleh Allah swt. Namun, begini: Ruslan seorang aktivis yang memiliki latar belakang pekerja keras. Tetapi, bagaimana dengan orang dulunya hanya kuliah dan setekah sarjana pulang kampung, tanpa ada kreatifitas yang mumpuni. Tentu, tergilas oleh waktu dan tak mampu bersaing.

Ada banyak Guru Honorer yang hanya berharap menjadi PNS, tanpa harus berbisnis, bekerja diperusahaan dan lainnya. Paling-paling di Sumbawa solusinya hanya menjadi Tenaga Kerja Indonesia.

Pekerjaan paling menjemukan adalah berharap menjadi PNS inilah, persaingan lebih dari 5 juta orang seluruh Indonesia. Seharusnya pemerintah mempelajrai potensi pengangguran ini secara detail dan memikirkan cara pencegahan pengangguran itu sendiri.

Ya mau apa lagi, Guru Honorer berharap solusi yang bisa dilakukan pemerintah: Pertama, Pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur pengangkatan tenaga honorer lewat skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Skema ini diutamakan untuk guru honorer K2 dan tenaga kesehatan.

Kedua, Tenaga Honorer K2 adalah tenaga honorer yang diangkat per 1 Januari 2005 dan tidak mendapat upah dari APBD/APBN. Untuk tenaga honorer kategori 2 jika ingin diangkat menjadi CPNS harus mengikuti tes seleksi terlebih dahulu. Skema ini hanya berlaku bagi guru honorer di bawa usia 35 tahun.

Ketiga, Dari 157 ribu guru honorer kategori 2, hanya 80 ribu yang bisa ikut tes CPNS. Kuota yang tersedia terbatas, kuota 12.883 formasi yang memenuhi syarat seleksi CPNS. Sedangkan 438.590 honorer K2, yang memenuhi syarat seleksi CPNS hanya 13.347 orang.

Keempat, Guru honorer yang tidak bisa ikut tes CPNS masih bisa ikut seleksi PPPK. Guru honorer usia diatas 35 tahun masih bisa ikut serta. Jika gagal dapat melamar lagi tahun depan (usia memungkinkan).

Kelima, Tidak seperti guru tetap, pemerintah tidak mengalokasikan uang pensiun untuk PPPK namun akan dirancang berdasarkan iuran guru itu sendiri.

Keenam, Guru honorer yang lolos PPPK tetap mengajar seperti biasa di sekolah masing-masing. Jika beban pekerjaan guru honorer dengan guru PNS maka gaji akan sama rata.

Ketujuh, PPPK adalah sistem kerja kontrak dengan durasi minimal 1 tahun. Jika tidak berkinerja bisa dihentikan (perbedaan mendasar antara guru tetap PNS dengan PPPK.

Dari tujuh item solusi diatas, apabila pemerintah tidak bisa melaksanakan dengan sistem yang baik, maka Guru Honorer semakin GALAU dan pengangguran semakin bertambah, sehingga diharapkan segera memberi solusi.

Penulis: Rusdianto Samawa