Mendayung Negara Bersama Pendiri Bangsa -->
Cari Berita

Advertisement

Mendayung Negara Bersama Pendiri Bangsa

Kamis, 04 Oktober 2018

Ilustrasi
Indikatorsumbawa.com - Kegagalan negara kita salah satunya adalah kegagalan mendaur ulang kembali gagasan-gagasan para pendiri bangsa (founding fathers) yang semakin lama semakin hilang ditelan oleh zaman. Kegagalan itu lalu berakibat pada lemahnya sistem, culasnya mental rakyat kita, hingga gagal kembali membangun cetak biru (blue print) atau peta jalan (road map) bangsa Indonesia saat ini.

Keheningan bangsa ini sudah mengakar kedalam sebuah rongga yang sangat dalam, sehingga untuk memunculkan kembali terasa semakin sulit. Kesulitan tersebut salah satunya akibat tidak percaya dirinya rakyat Indonesia didalam membangun sebuah peradaban baru. Hilangnya peradaban nusantara yang lampau, merupakan salah satu contoh yang sangat nyata, bahwa nusantara hancur akibat keserakahan, keculasan, kerakusan yang tak kenal belas kasih.

Tentu kita semua tidak mau mengulang sejarah kelam seperti kerajaan-kerajaan pada masa lampau, yang hancur akibat adanya keserakahan, keculasan, dan kerakusan tersebut. Namun faktanya rakyat Indonesia kini tidak mampu memetik pelajaran dari hancurnya kerajaan-kerajaan dahulu yang ada dinusantara. Sehingga didalam prakteknya, negara ini selalu stagnan ditempat tanpa maju berkembang menuju suatu peradaban yang baru.

Kegagalan memahami kembali pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa, yakni akibat lemahnya memahami kembali sejarah bangsa Indonesia, serta gagal memahami kembali nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Didalam memahami sejarah, maka harus memaknai kembali rasa perjuangan awal, yakni sebagai titik bangkit menuju peradaban yang baru. Namun kita tidak demikian, karena sejarah bagi kita hanya sebuah peristiwa massa lampau yang cukup hanya dikenang tanpa makna, sehingga nilai-nilai didalamnya hilang begitu saja.

Berbicara tentang pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa, maka kita semua akan berbicara mengenai sejarah, karena pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa itulah yang menyebabkan majunya negeri tercinta ini, lalu tercatat didalam tinta emas sejarah bangsa. Maka oleh sebab itu, hilangnya pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa disegenap hati rakyat kita saat ini, secara tidak langsung juga merupakan hilangnya identitas negara, dan hilangnya sejarah bangsa. Hal ini dikarenakan bahwa pemikiran para pendiri bangsa merupakan sebuah pijakan awal didalam membangun sebuah bangsa dan negara yang mandiri dan kuat.

Betapa banyak para pendiri bangsa ini yang pemikirannya sudah kita tinggalkan begitu saja, sehingga negara ini selalu carut-marut dengan segala macam permasalahannya. Didalam sejarah, kita semua tidak terlepas dari perjalanan bangsa ini, yang pada akhirnya berujung pada adanya persatuan dan kesatuan seluruh rakyat dinusantara yang membentuk "Bhineka Tunggal Ika". Setidaknya bangsa ini telah dikepung oleh ragam kolonialisme serta imperialisme, dari bentuk fisik sampai menuju bentuk pertarungan ideologi yang tak berkesudahan.

Sehingga akibat penjajahan dalam bentuk fisik dan dalam bentuk pertarungan ideologi itu, kita mewarisi mental-mental yang lemah, yakni "mental terjajah" dan "mental menjiplak". Mental terjajah yakni berkaitan dengan penjajahan fisik dinusantara yang berlangsung cukup lama, sehingga dari situ muncullah ketakutan, kebodohan, serta kemiskinan, dan setelah penjajahan fisik lenyap dibumi pertiwi ini, maka penjajaham dalam bentuk baru yakni penjajahan secara pertarungan ideologi (neo-kolonialisme), yang menyebabkan negara kita ini terus mengalami kesulitan dan terombang-ambing, lalu pada akhirnya negara menjiplak dan memaksakan suatu ideologi dunia untuk diterapkan didalam bumi pertiwi ini. Dan akhirnya karena tidak sesuai dengan kultur serta kondisi bangsa ini, negara menjadi tidak mempunyai pijakan, dan rakyatnya menjadi anarkis dan culas.

Lalu atas sebab itu, pada akhirnya rakyat kita terkena dua penyakit sekaligus, yakni penyakit "badan" dan "jiwa". Penyakit badan karena sudah terlalu lama dijajah secara fisik, sehingga meninggalkan bekas yang sangat nyata, yakni kebodohan dan kemiskinan, dari kebodohan dan kemiskinan inilah pada akhirnya melahirkan manusia-manusia yang pasrah terhadap suatu keadaan bangsa dan negara. Dan dari penyakit jiwa, maka lahirlah manusia-manusia penjilat yang takut oleh para kapital, feodal, dan oligarki kekuasaan baik dalam maupun luar negeri.

Sehingga bangsa ini pada akhirnya mewarisi dua penyakit sekaligus yang sulit diobati, ditambah dengan moral serta akhlak yang bobrok atas setiap rakyat Indonesia. Lalu apa yang kita dapat dari kemerdekaan ? Tidak lain yang didapat dari kemerdekaan ialah seperti halnya perkakas yang tidak mempunyai mesin. Lalu apa mesinnya itu ? Mesin atau rotornya adalah pemikiran-pemikiran berlian para pendiri bangsa. Inilah yang menjadikan negara kita hidup dan mempunyai jati diri yang sangat kuat.

Banyak para tokoh pendiri bangsa yang pemikirannya tidak lagi kita adopsi untuk kepentingam bangsa dan negara saat ini. Kita ambil contoh sedikit, bagaimana Bung Karno dengan spirit Nasionalisme dan Marhaenisme, Bung Hatta dengan kemandirian ekonominya mencetuskan prinsip Koperasi, Tan Malaka dengan perjuangan Front Rakyatnya, dan masih banyak lagi yang lain, yang kesemuanya nyaris sirna dan gagal kembali didaur serta diadopsi oleh para elite negara saat ini.

Gagalnya kita mentransformasi dan mendaur ulang kembali pemikiran para pendiri bangsa, akhirnya berakibat pada rendahnya mutu bangsa ini, dan semakin carut-marutnya negara, akibat banyaknya penumpang gelap dalam konstelasi percaturan politik dan demokrasi Indonesia. Sehingga yang didapat oleh bangsa ini adalah tidak lain tidak bukan hanya pelik-pelik kepentingan golongan, dan kepentingan politik dalam dan luar negeri yang tidak berkesudahan, sehingga yang terjadi adalah adanya pembajakan negara (state capture) oleh para elite untuk kepentingan kelompoknya, partainya golongannya, dan asing, yang digoalkan dalam bentuk perundang-undangan serta peraturan daerah.

Kita Sudah Kehilangan Jati Diri

Sejarah tidak mungkin berbohong pada kita semua, dimana sejarah membuktikan bahwa perubahan cara pandang dapat memporakporandakan kekokohan sebuah negara. Sebagaimana dialami Uni Soviet yang hancur, yakni bukan karena pertempuran senjata dan peluru yang berjatuhan, tetapi karena perubahan cara pandang (mindset) Presiden Gorvachev dengan pemikiran "Prestorika" dan "Glasnostnya" (Siradj : 2016).

Kaitannya dengan Indonesia, negara kita ini sudah banyak melakukan perubahan pandangan dan sistem bernegara, namun kesemuanya tidak menuju pada peradaban yang baru. Dimana didalam perubahan pandangan bahkan sistem negara tersebut, selalu saja diwarnai dengan pertarungan ideologi dunia, sehingga hasil dari pemikiran (ijtihad) para pendiri bangsa seperti "Pancasila" kian terlupakan. Ini akibat dari ketidakpercayaannya kita terhadap hasil pemikiran para pendiri bangsa, dan lebih memakai dan mempercayai suatu ideologi dunia untuk diterapkan dinegara ini. Sehingga kualitas demokrasi yang ditawarkan oleh negara ini tidak mencerminkan demokrasi yang bisa berguna bagi seluruh rakyat Indonesia.

Senada dengan itu, John Markoff mengistilahkan dengan nama "Demokrasi Beku", dimana Indonesia yang baru ini dapat terjun menuju "demokrasi beku" (frozen democracy), yakni penerapan demokrasi yang tidak menghasilkan perbaikan perekonomian bangsa, kesejahteraan rakyat, pembentukan masyarakat sipil, dan terjadinya konsolidasi sosial, politik, dan hukum.

Maka untuk menghasilkan demokrasi yang sehat, Cak Nur dalam (Nafis, 2014 : 337) mengatakan "Demokrasi tidak mungkin bisa dibangun dan ditegakkan tanpa adanya prinsip-prinsip yang diperanggapkan sebagai dengan sendirinya benar (presumed truth), dan diterima oleh semua warga negara. Dalam hal negara kita, prinsip-prinsip itu ialah Pancasila dan makna UUD 1945. Maka, peran negara dalam  itu ialah mempertahankan "presumed truth" itu dan mengembangkannya sebagai titik tolak kiprah demokrasi Indonesia".

Karena itulah jika demokrasi didalam negara ini mau berjalan sehat, maka negara harus kembali kepada Pancasila dan UUD 1945, karena oleh sebab negara menjadikan keduanya sebagai pijakan, maka terbukalah demokrasi yang kuat dan sehat. Justru itu, jika keduanya diabaikan, dirubah, dan hanya jadi simbol khayalan belaka, serta dijadikan barang dagangan politik, maka negara kita kian terperosok, hingga jatuh kedalam kubangan yang sangat dalam, dan akan terjadi konflik horizontal antar sesama warga negara.

Pancasila dan UUD 1945 merupakan diantara  hasil pemikiran dari para pendiri bangsa, maka dengan memelihara keduanya sama saja memelihara dan merawat pemikiran para pendiri bangsa. Namun, kita semua harus berani membuat peta jalan (road map) keduanya, agar bangsa dan negara ini mempunyai pijakan yang kuat kedepannya, agar Pancasila dan UUD 1945 siap didalam menyongsong massa yang akan datang.

Maka untuk kita semua, didalam membangun negara yang sedang carut-marut saat ini, tidak ada jalan lain, kecuali negara dan seluruh warganya kembali merawat, menghayati, memakai, serta mendaur ulang prinsip dan pemikiran para pendiri bangsa, dimana dengan begitu setidaknya kita mampu menjadikan negara mempunyai pijakan dan jati diri yang tidak mampu dibeli oleh kepentingan partai politik, golongan, kelompok, hingga kepentingan asing.

Merawat pemikiran para pendiri bangsa maka sama saja merawat sejarah, dan sejarah merupakan guru yang sangat berharga bagi kita semua untuk sebuah pembelajaran. Tentu kita semua tidak mau mengulang massa-massa seperti keruntuhan kerajaan diseluruh nusantara, dan massa dimana hancurnya negara ini didalam orde lama dan orde baru karena menguatnya polarisasi politik ideologi dunia, untuk itu kita semua harus kembali melihat sejarah massa silam, dan jangan melihat sejarah kelam bangsa ini, namun harus terus-menerus melihat massa emas bangsa ini, yakni dengan melihat, memakai, dan merawat pemikiran para pendiri bangsa, dengan begitu negara kita akan menjadi negara yang kuat dan mempunyai jati diri. 

Mensudahi tulisan singkat ini, saya kutip perkataan Cicero, dimana ia mengatakan "Historia Vitae Magistra" (sejarah adalah guru kehidupan)". Untuk itulah mari kita belajar dari sejarah, dan belajar dari pemikirian-pemikiran para pendiri bangsa.

Penulis: Andriyatno