Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma Malang Menolak Kebijakan Fakultas -->
Cari Berita

Advertisement

Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma Malang Menolak Kebijakan Fakultas

Jumat, 11 Januari 2019

Foto: Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma. 
Indikatorsumbawa.com - UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan ini sebenarnya sudah menjadi ukuran dan pandangan yang harus dijadikan pedoman pengembbangan pendidikan, apalagi kampus unisma ini membawa jargon ‘Dari NU untuk indonesia dan peradaban dunia” permasalahannya adalah ketika dalam fakultas sendiri sudah mulai ada kemalasan berfikir, maka disitu kemudian lahir kebijakan yang tak dilandasi pertimbangan yang matang. Padahal dalam kaidah yang selalu kita dengar dalam menjalani kepemimpinan “kebijakan pemimpin harus berkaitan langsung dengan kemaslahatan umat” nah disini kemudian lahir perspektiif-perspektif berbeda terkait langkah yang diambil dekan fakultas pertanian, yang awalnya berfikir kemaslahatan tapi yang lahir malah kemafsadatan.

paling fatal dalam pembuatan kebijakan ini adalah menjadikan pembelian majalah radix ini sebagai persyaratan untuk UAS (untung tidak sampai ada yang memaknai macam macam tentang UAS ini, contoh, Ujian Apa Sih), padahal dalam pedoman akademik kita, yang diberlakukan oleh Universitas itu; 1. Heregistrasi, 2. Memenuhi daftar hadir minimal 75%. Di fakultas pertanian ada penmbahan kebijakan yaitu harus bahkan wajib membeli majalah radix dengan dikeluarkannya kebijakan dekan itu yang sebenarnya menyalahi kerangka rasio kita mahasiswa. Dari situ mahasiswa pertanian itu dipancing logika berfikirnya dengan dihadapkan pada pertanyaan “apakah sebenarnya kurikulum pendidikan fakultas pertanian bahkan universitas itu?” yang seakan antara kebijakan dengan pemaksaan, pendidikan dengan penindasan  itu tidak ada bedanya. Mahasiswa yang sadar akan hal ini tentu tak akan diam saja, karena dia tahu bahwa kejahatan itu terjadi bukan karena apa, tetapi karena orang baik dan punya nalar baik itu diam.  

Mahasiswa fakultas pertanian mulai digelisahkan dengan kebijakan fakultas yang dianggap kurang masuk akal. Mahasiswa/mahasiswi fakultas pertanian mulai menjadi ladang bisnis. Memang tidak berat hanya mengeluarkan uang dengan nominal Rp.20.000,00. Tapi yang menjadi garis besar bagi kami selaku perwakilan dari mahasiswa fakultas pertanian yaitu menjadi “PERSYARATAN UAS”  seakan akan UAS yang akan kami hadapi tak akan terlaksana hanya karena jual beli tersebut. Akankah kita sebagai mahasiswa tetap mau membungkam suara dengan hadirnya kebijakan fakultas seperti ini. Kita mahasiswa, bukan ekor dari fakultas yang hanya mengangguk dengan kebijakan apapun yang dikeluarkan. Dan hanya berani membuka suara dibelakang saja. Harusnya ada solusi yang tepat untuk pemasaran buku ini. bukan kita tidak mendukung dengan prestasi yang telah dicapai hanya saja penempatan yang  tidak tepat lantas menjadi masalah. Hingga  dibenturkan dengan dua pilihan. Jika tidak terjual habis maka akan memfakumkan pihak pembuat. Inikah konsep pengembangan pendidikan hari ini? Jika tidak menemukan solusi yang tepat adakalanya mencari titik terang dengan berdiskusi atau bertukar pendapat. Bukan lantas ada dua pilihan tersebut. Hingga kami berpikir bahwa nyawa dari pembuat seakan-akan tergantung dari buku tersebut

Harusnya pihak fakultas memberi arahan dalam pemasaran bukan mengorbankan mahasiswanya sendiri dalam ladang  bisnis yang tidak mempertimbangkan pihak lain. Demi kenyamanan dan keamanan bersama marilah kita selesaikan dengan cara tidak mengorbankan. Kita tidak bermaksud hanya sebagai kritisi saja. Tetapi kita mengajak dalam transformative menghadapi hal seperti ini. Mungkin, ini adalah salah satu suara kami dalam menegur kebijakan fakultas. Pertanyaan paling terakhir yang belom menemukan jawaban adalah “apa hubungan UAS dengan majalah radi". 

Penulis: Dwi Indrawan, Mahasiswa Pertanian Unisma, semester 3 (Koordinator)