Ikrar Perempuan Yang Memiliki Keterikatan Luar Biasa -->
Cari Berita

Advertisement

Ikrar Perempuan Yang Memiliki Keterikatan Luar Biasa

Senin, 24 Juni 2019

Lusy mustikhorini, Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Indikatorsumbawa.com - Perempuan, ya kata itu tidak asing terdengar di telinga kita. Banyak yang mengartikan dalam berbagai bentuk. Perempuan banyak diartikan sebagai seorang manusia yang memiliki perasaan yang cukup dalam, ia tidak hanya menggunakan otak mereka untuk berfikir. Namun ia menggunakan perasaan untuk coba mengerti apa yang dirasakan orang lain. Perempuan diibaratkan seseorang yang lemah dibandingkan dengan laki-laki. Tapi dari perempuan, lahirlah generasi penerus bangsa. Tanpa ia ketahui, penerus bangsa itu akan memberikan nama baik terhadap negaranya atau malah menjerumuskan dirinya sendiri dalam perbuatan negatif, yang berimbas terhadap nama baik, keluarga dan bahkan sosialnya yang buruk. Menjadi seorang perempuan adalah takdir yang tidak bisa di rubah. Tapi, dengan keadaaan seperti ini kita sebagai perempuan harus memiliki intelektual yang jauh menatap ke depan, untuk kebaikan hubungan sesama manusia. Selain intelektual, emosi dan tata perilaku didalam diri seseorang harus dikembangkan. Fatal akibatnya jika seorang perempuan hanya memiliki intelektual tinggi namun tidak diimbangi dengan rasa kemanusiaan. Perempuan bisa lebih kasar dari pada lelaki, karena jika mereka merasa tertindas, ia akan melakukan sesuatu hal yang sangat membahayakan. 

Pendidikan yang baik bahkan setara dengan laki-laki sangat diperlukan untuk saling memahami terhadap individu yang berada disekitarnya. Bukan hanya terhadap sejenis dengan gendernya, perempuan akan lebih bahaya jika melakukan hal yang salah terhadap apa yang akan dia lakukan terhadap lawan jenis. Perempuan akan lebih agresif dan sangat membahayakan untuk dirinya sendiri. Kita harus menyamakan persepsi kita, tentang sederajatnya perempuan dan laki-laki dalam segi pendidikan. 

Salah satu faktor yang membuat perempuan akan melakukan hal negatif sebenarnya muncul dari sekitar. Mulai dari hal yang sangat dekat dengannya yaitu keluarga, teman maupun lingkungan sosial. Penindasan yang dilakukan mulai dari ia masih kecil, akan selalu membekas di dalam hatinya dan akan melakukan balas dendam terhadap siapapun yang ia rasa pernah menyakitinya. Kita tidak bisa menyalahkan anak perempuan yang terlahir dari keluarga yang berantakan (broken home). Mereka sebenarnya ingin merasakan kasih sayang yang sama dengan anak-anak lainnya. Ia ingin melihat keluarnya utuh tanpa ada air mata yang menetes dari mata dan bati mereka yang menangis. Tapi sebagai anak-anak, hal itu hanya akan membuat mereka diam dan akan memberontak nantinya saat ia terus menerus dihadapkan dengan hal yang sama. Karena sejatinya, jati diri anak dapat muncul dari keluarga. Dari keluarga yang berantakan, ia akan berusaha mencari kebahagian yang lain dengan orang yang ada disekitarnya. 

Masalah itu ibarat kerikil kerikil kecil yang kita temui. Kerikil itu memang kecil tapi juga akan membuat masalah baru yang sangat besar dan dapat menjadi batu pijakan untuk perempuan menjadi lebih baik dari pembelajaran itu ataupun malah sebaliknya. Realisasi di kehidupan para perempuan banyak merasakan dan mengalami kekerasan. Terutama dalam kekerasan seksual terhadap anak-anak ataupun kekerasan dalam rumah tangga, meskipun sudah ada hukum khusus anak dan perempuan. UU nomor 23 tahun 2003 yang diperuntukkan untuk melindungi anak dan UU nomor 23 tahun 2004 yang berisikan tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Tetapi faktanya UU belum cukup menjamin keselamatan dan kesejahteraan perempuan untuk memperoleh hak-hak hidup secara manusiawi. Masih adanya budaya patriarkhi yang menganggap wanita derajatnya masih jauh dibawah laki-laki. 

Peringatan hari perempuan internasional yang tepat jatuh di tanggal 8 Maret dipentukkan agar perempuan di seluruh dunia terbebas dari diskriminasi dan kekerasan dalam bentuk apapun. Setiap tahun Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (KOMNAS PEREMPUAN) selalu menerima pengaduan kasus kekerasan terhadap perempuan. Dari tahun ke tahun pengaduan terhadap kekerasan yang di alami oleh perempuan selalu meningkat. Dari data, pada 2019, terdapat 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2018 (naik dari tahun sebelumnya sebanyak 348.466). Data ini diperoleh dari wilayah yang mudah diakses, sedangkan data dari 3 propinsi di Indonesia Bagian Timur yaitu Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum diketahui data yang konkret. Berbeda terbalik dari Indonesia Bagian Timur, terdapat pengaduan tertinggi terhadap kekerasan wanita yaitu Propinsi Jawa tengah, Jawa Timur dan DKI Jakarta. 

Mengapa kekerasan terhadap perempuan banyak terdapat di wilayah tersebut ? Dari data, tercatat setiap tahun lulusan SMA yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi sangat banyak berorientasi di Jawa. Dikarenakan pendidikan yang lebih maju dari wilayah mereka. Dari penambahan mahasiswa baru di kota-kota besar yang terus meningkat, akan berimbas pada besarnya kekerasan yang terjadi. 

Faktor kedua dari kekerasan terhadap perempuan bisa muncul karena penggunaan teknologi. Banyak anak muda yang berlomba-lomba untuk banyak dikenal banyak orang. Penyebaran foto ataupun video yang setiap harinya selalu ada, hal tersebut sangat mudah untuk terjadinya kekerasan yang berbasis cyber. Dari tahun ke tahun, kekerasan dalam bentuk teknologi terbesar di tahun 2018. 

Banyak pola yang digunakan dari kekerasan yang berbasis teknologi, seperti pengancaman dengan menyebar foto ataupun video korban yang sedikit vulgar jika korban menolak untuk melakukan hubungan seksual. Hal ini bukan hal yang tabu lagi, paling tinggi terjadi pada anak sekolahan dan mahasiswi.  Pelaku biasanya berusia25 s.d 40 tahun dan para korban berusia 13 s.d 18 tahun. Padahal sudah terdapat peraturan perundang-undangan tentang perempuan, tetapi jika kita sebagai makhluk sosial yang masa bodoh terhadap peraturan. Sampai kapanpun kekerasan terhadap perempuan akan tetap terjadi. 

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk bisa menghargai adanya sosok perempuan. Seperti halnya bagaimana kita untuk memahami keinginan seorang perempuan. Memposisikan diri sebagai perempuan adalah salah satu cara tepat untuk mengetahui bahwa perempuan mempunyai keterikatan yang luar biasa.

Penulis: Lusy mustikhorini / Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.