Menjemput Fajar Kemerdekaan Di Langit Selatan -->
Cari Berita

Advertisement

Menjemput Fajar Kemerdekaan Di Langit Selatan

Rabu, 18 Agustus 2021

Foto. Afdhol Ilhamsyah (Penulis) 


Indikatorsumbawa.com - Apa kabar Indonesia ? 

Tujuh puluh enam tahun Indonesia merdeka, belum kunjung jua selatan berbahagia. Benar Indonesia yang saat itu Nusantara hingga ke negeri seberang berhasil ditaklukan oleh seorang Patih Gajah Mada. Sumpah palapa diikrarkannya, putra sang fajar ikut jua memperjuangkannya. 


Hindia Belanda, Fasisme Nippon, menjadi bagian dari pada catatan sejarah yang pahit. Tiga ratus lima puluh tahun lamanya Belanda mengendalikan kehidupan kaum pribumi. Turut pula jepang menyambung kejahatan kemanusiaan ini. Karena penjajahan di atas dunia amat tak patut diperkenankan oleh nilai-nilai kemanusiaan. Menyita keselamatan lahir batin. Banyak darah bercucuran, banyak korbanan berjatuhan. Tapi tidak untuk berhenti. Banyak kekayaan di Nusantara, tapi tidak sejahtera. 


Di tengah situasi Pandemic Covid19, situasi ekonomi, situasi politik ikut jatuh dalam jurang kehancuran. Luka masyarakat terlihat makin menganga. Kejahatan ekonomi, kejahatan politik, tak kalah lajunya dengan kejahatan perang. 76 tahun yang lalu terbayang perih bagaimana perjuangan patriot-patriot tanah air, perjuangan yang tak cukup hanya dibalas dengan heningan cipta atau pun keringat dekil tak bermakna penuh keluhan tatkala menyaksikan julangan sang saka meninggi ke atas langit.


Pancasila dasarnya, Trisakti Jalannya, Indonesia Adil dan Makmur tujuannya. Satu untuk semua, semua untuk satu, semua untuk semua. Iyah, kiranya begitulah lantunan lantang seorang putra sang fajar, Bung Karno. Tak sekadar tulisan, bukan pula kerajinan tangan. Melainkan Pondasi Negara, Cita-cita bangsa sekaligus pedoman berbangsa dan bernegara di atas muka bumi.


Rengasdengklok sebagai bukti bagaimana semangat pemuda turut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, kala itu menjelang diikrarkannya Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Andai saja para pejuang kemerdekaan Indonesia menyaksikan sirkus hari ini, menyaksikan generasi bangsa hari ini, niscaya muka lusuh dan ratap bersedih melihat generasi yang kian hari makin jauh dengan rasa cinta tanah air, tak kenal sejarah, tak ingin tahu menahu kekejaman yang telah dilalui para pendiri bangsa Indonesia.


Kaum muda menculik kaum tua. Dengan maksud agar kaum tua mempercepat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Perdebatan mewarnai perjuangan. Isak tangis yang tak dapat dibendung, Rumah kediaman Bung Karno Pagangsaan Timur adalah saksi bisu bahwa meski Bung Karno yang saat itu sedang mengalami sakit malaria, semangat juang tak dapat dipadamkan. Kolaborasi gerakan bawah tanah tak boleh dilupakan sebagai penyokong kemerdekaan Indonesia.


Berbeda dengan kaum muda hari ini yang senang dengan hal-hal yang tidak produktif untuk bangsa dan negara. Tiktok, DramaKorea, Drama India, Sinetron, Game online, adalah senjata musuh yang tak banyak orang menyadarinya. Jika ingin merusak suatu bangsa, maka hancurkanlah generasinya. Pemuda sebagai aset bangsa, kian hari semakin tidak menghargai perjuangan kemerdekaan. Bahkan tak kenal siapa dirinya sendiri. 


Dari sabang sampai Merauke, dari mingas sampai pulau Rote membentang jauh, melintang luas samudra dan hamparan hijau. 

Di ujung timur, tambang mineral dan kekayaan lainnya. Di ujung barat, luas ladang ganja bentrok tentaranya. Sebrang utara, 

Borneo, batu bara, minyak dan hutannya. 

Ayo kita ke selatan sana, kemenangan sosialisme ditangan kita. Kita bukan pengikut paham barat. Kita bukan pengikut paham blog timur. Tetapi kita adalah Pancasila. Kita adalah Nusantara. Kita adalah Indonesia. 


Sadarkah pemuda hari ini akan hal itu semua ? Kekayaan sumber daya alam Indonesia terkonsentrasi pada penguasaan segelintir orang. Tanah-tanah rakyat dijarah, hutan-hutan adat dikebas juga. Sampai kapan kita berkelahi dengan bangsa kita sendiri ? Bukankah mestinya kita melanjutkan revolusi. Bukan kita melanjutkan cita-cita sejati kemerdekaan ?


Di saat yang berbahagia ini, langit selatan memberikan ruang kehangatan. Menjemput fajar di Langit Selatan. Desa Pernek lestari nan asri, memberatkan diri untuk beranjak pergi. Cita dan asa kami selalu panjatkan. Apalagi ketika tangan memberikan hormat setinggi-tingginya pada sang Saka yang berkibar di langit selatan. Selatan, kau kesuburan. Kau harapan. Kau kemenangan.

Di kaki bukit air terkantongi. Bendungan pernek disejuk pagi. Menjadi peserta upacara selain kawanan hewan dan tumbuhan. Pemuda Pemudi Desa Pernek memberikan kesan dalam risalah bahwa kami sebagai tamu desa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata merasa bahagia akan rangkulan mu. Bersama-sama di pagi hari, mengibarkan si merah putih. Simbol perjuangan terhentak angin. Semakin terhentak, semakin gagah tiang berdiri. Begitulah mestinya pemuda hari ini.


Terimakasih langit selatan. Dirgahayu kemerdekaan yang ke 76. (***)